Tanggalnya aku lupa, tapi tahunnya aku ingat, yaitu 2005. Untuk kesekian kalinya aku ke Mataram. Paling tidak sudah 3 kali aku ke Mataram, Nusa Tenggara Varat dan itu yang keempatkalinya. Yang pertama sekitar tahun 1985, yang kedua sekitar tahun 1990, dan yang ketiga tahun 2000. Kunjungan yang pertama sampai ketiga tidak menimbulkan kesan yang begitu mendalam dibandingkan dengan kunjungan keempat ini.
Begitu mendarat di bandara S
elaparang, aku melemparkan pandangan ke sekeliling bandara dan aku melihat jajaran pegunungan, yang kemudian aku tahu ternyata hanya ada satu gunung, Gunung Rinjani, membentengi bandara Selaparang. Seperti dekorasi bandara yang dilukis dengan sempurna. Belum lagi aku puas menikmati keindahan "lukisan" itu, aku disadarkan betapa segarnya udara di Mataram. Aku bersyukur, bahwa aku masih bisa merasakan semuanya itu secara sadar dan dalam kondisi badan yang sehat. Kalau saja, tidak banyak orang di bandara itu, mungkin aku akan meniru perilaku Sri Paus yang selalu mencium tanah dimana dia mendarat, tapi itu tidak aku lakukan, malu.
elaparang, aku melemparkan pandangan ke sekeliling bandara dan aku melihat jajaran pegunungan, yang kemudian aku tahu ternyata hanya ada satu gunung, Gunung Rinjani, membentengi bandara Selaparang. Seperti dekorasi bandara yang dilukis dengan sempurna. Belum lagi aku puas menikmati keindahan "lukisan" itu, aku disadarkan betapa segarnya udara di Mataram. Aku bersyukur, bahwa aku masih bisa merasakan semuanya itu secara sadar dan dalam kondisi badan yang sehat. Kalau saja, tidak banyak orang di bandara itu, mungkin aku akan meniru perilaku Sri Paus yang selalu mencium tanah dimana dia mendarat, tapi itu tidak aku lakukan, malu.Sejauh mata memandang, hanya hijau dan hijau. Semakin jauh kita menerawang, kombinasi warna biru alami menggeluti warna hijau dedaunan. Sesekali rombongan burung kuntul yang berwarna putih melintas perlahan di atas bandara dan burung pipit dalam gerombolannya yang besar menyusulnya. Awan putih bergerombol kecil - kecil menggantung di mega biru seperti diletakkan oleh tangan mahabesar di sana. Belum lagi sebersit awan yang "tersangkut" di puncak gunung, Gunung Rinjani, seperti berusaha menyembunyikan bagiannya yang penting agar tidak bisa aku pandangi. Indah semuanya.
Pemandangan yang indah dan udara yang segar, yaa . . . . . dua perpaduan yang jarang bisa aku temukan di kota - kota besar di Kalimantan, dimana aku berpetualang. Belum lagi panasnya sinar matahari yang menyentuh kulitku, terasa ringan. Panasnya tidak terik dan tidak terlalu membuat berkeringat. Apalagi terkena hembusan angin yang sejuk.
Pelan - pelan dalam hatiku, aku berharap agar aku bisa bertempat tinggal di Mataram, NTB.
Bandara Selaparang telah memikatku!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar