Hujan yang membantuku
Hujan begitu deras, suaranya saja membuatku
tidak bisa melanjutkan tidur padahal semalam aku baru tidur jam 3 pagi. Masing
ngantuk apalagi dalam suasana dingin karena hujan di pagi hari. Belum lagi
pulih kesadaranku karena masih “memperjuangkan” untuk bisa tidur lagi, HP di
samping tempat tidurku bergetar, sengaja aku silent kalau malam hari untuk tidak mengganggu tidurku. Aku lihat,
ada tiga kali miscall dari pak Brata,
manajer pengelola mal Melati yang tidak jauh dari kamar kontrakanku, tapi yang
telepon kali ini mbak Anas. “Ada apa ya? Kok pak Brata dan mbak Anas telepon
aku, apakah mereka membawa kabar yang sama?” aku bertanya-tanya dalam hati.
Aku jawab teleponnya, “Pak Bayu, pak Brata
minta tolong saya untuk menghubungi pak Bayu. Katanya pak Brata minta pak Bayu
untuk kerja hari ini, ngepel mal karena hujan jadi mal akan banyak basahnya.
Cepet ya pak, kalau bisa sekarang sudah ditunggu pak Brata. Katana berkali-kali
pak Brata telepon pak Bayu nggak ada jawaban. Sekarang ya pak. Ditunggu di gate 3, dekat kios buah. Sudahan ya
pak”. Ah, belum sempat ngomong, HP sudah ditutup. Memang kebiasaan Anas kalau
telepon aku selalu seperti itu. Selalu monolog. Padahal dia belum tahu aku bisa
apa tidak. Tapi memang, aku tidak bisa menolak permintaan Anas, seberapa
beratnya selalu aku lakukan. Dan Anas tahu itu, jadi dia tidak memerlukan
jawabanku, tapi bagaimana jika aku sakit, yang sudah barang tentu tidak bisa
mengerjakan perintah pak Brata?
Ah Anas…. Selalu saja anak ini seperti itu.
Aku bersyukur, hari ini aku mendapat rejeki
di pagi hari, paling tidak hari ini aku tidak bingung mau makan apa karena
biasanya pak Brata member jatah makan siang di sampling honor ngepel gedung.
Hujan masih saja deras di luar.
Aku memakai sepatu ketsku yang masih agak basah karena belum sempat aku keringkan
setelah semalam aku kehujanan sepulang dari membantu membereskan pesta
perkawinan di kampung sebelah. Lumayan karena seharian aku dapat makan, dan
pulangnya masih diberi nasi kotak dan kekantung kue yang tersisa. Nasi kotak
aku bawa untuk bekal makan pagiku dan kuenya aku simpan untuk malam nanti.
“Moga-moga bisa tahan sampai nanti malam”, harapku dalam hati. Kumasukkan nasi
kotak, kuisi botol minumku, kuraih topiku dan aku berangkat setelah mematikan
lampu dan mengunci kamar.
Dengan berpayung aku ke gate 3 mal Melati. Kebetulan gate 3 paling dekat dengan kontrakanku
dibanding dengan gate-gate lainnya. Dari kejauhan, aku sudah
melihat bayangan pak Brata yang mulai resah menunggu kedatanganku, dan dari
gelagatnya aku merasa ada yang tidak beres yang terjadi di mal Melati. Dan
benar saja, begitu melihat aku datang mengarah kepadanya, pak Brata melambaikan
tangannya memintaku untuk cepat berjalan menemuinya.
“Pak, cepat ambil kain pel dan pel lantai 1
dan 2 karena basah dimana mana” perintahnya, padahal aku belum sempat masuk ke
dalam gedung. Rupanya ada jendela nako di lantai 1 dan 2 yang tidak tertutup
dengan baik semalam, sehingga air hujan masuk dan membasahi lantai di
sekitarnya. Karena hujan yang berkepanjangan, rupanya air hujan telah mengalir
kemana-mana. Kini kaca nako itu sudah ditutup dengan baik oleh pak Brata.
“Sebentar lagi pemilk kios akan datang
membua kios dan tokonya, kalau lantai basah bisa tidak aman dan mereka bisa complain ke saya. Cepat ya pak”
perintahnya. Dalam hatiku, bagaimana aku bisa menyelesaikan pekerjaan itu
kurang dalam satu jam? Tapi karena memang aku butuh pekerjaan dan sekarang ada
pekerjaan, maka tanpa pikir panjang aku menuju ke lantai dasar, ke ruangan cleaner dimana disimpan alat-alat
kebersihan.
Dengan sebuah ember peras dan sebuah mop aku menuju ke lantai 1 untuk
mengepel di lantai ini dulu karena para pemilik kios akan masuk lewat lantai 1.
Begitu aku melihat kondisinya, aku terkejut karena air sudah kemana-mana dan
pastilah tidak bisa cepat selesai dengan satu mop saja. Bergegas aku kembali ke ruang cleaner untuk mencari alat alat apa yang bisa aku pakai untuk
mendorong air keluar. Hanya ada satu sapu, jadi. Tiada rotan, akarpun jadi.
Dengan bantuan sapu itu aku mengeringkan lantai satu dengan cepat dan
mengepelnya. Segera aku menuju ke lantai dua, sementara waktu sudah menunjukkan
sekitar 15 menit lagi para pemilik kios akan mulai berdatangan. Tidak
memperpanjang waktu, segera aku menyapu lantai dua. Pas ketika semua air sudah
kusapu, pemilik kios pertama sudah datang, Ibu Sastro.
Dengan ramah ibu Sastro, meyapaku “Pagi
mas, kok sudah lama tidak kelihatan?”.
“Iya bu, ini…….” Aku tidak tahu mau
menjawab apa karena aku tahu walaupun aku jawab dengan benar dia juga tidak
akan mendengarkannya, toh itu pertanyaan basa-basi, tapi ibu Sastro selalu
menyapaku. Dan ibu Sastro sudah hilang di tikungan lorong kiosnya.
Baru saja aku mulai ngepel, tiba-tiba ibu
Sastro muncul dan dengan sedikit berlari mendekatiku, “Mas di depan kios saya
kok banjir ya?”, tanyanya agak kesal.
“Maaf bu, saya tidak tahu kalau di sana
juga banjir, sebab pak Brata hanya melaporkan daerah ini saja. Saya segera ke
sana bu”, aku mengikuti langkah ibu Sastro ke kiosnya, dan ternyata tidak
seperti yang dia ceritakan. Air memang tergenang tapi tidak sampai separah
seperti di depan kios bu Lina. Dengan cepat aku menyapu airnya dan mengepel.
Beres.
Rupanya ketika aku mengerjakan daerah di
depan ibu Sastro, para pemilik kios sudah pada berdatangan. Tidak ayal lagi,
lantai dua jadi kotor bekas tapak sepatu mereka, karena tadi belum sempat aku
pel kering. Kesal juga, tapi yah apa boleh buat. Mungkin mereka tidak terlalu
memperhatikan kalau lantai 2 masih masah dan belum dipel. Salahku juga tidak
menempatkan tanda “Caution, wet floor” untuk
memberi tanda kalau daerah itu basah.
Baiklah, aku kembali ke ruang cleaner dan mengambil semua tanda “Caution, wet floor” dan menempatkannya
tersebar di lantai 2. Suasana masih pagi dan tidak cukup panas untuk bisa cepat
mengeringkan lantai yang baru saja aku pel. Kalau di lantai satu bisa
kuselesaikan selama kurang lebih 1 jam, di lantai 2 ini hampir 2 jam, hingga
benar-benar semua pemilik kios datang. Aku lihat mbak Anas juga sudah datang,
tapi mal belum lagi secara resmi dibuka. Masih setengah jam lagi. Atas bantuan
Satpam, pak Soleh, pekerjaanku lebih cepat. Pak Soleh bukan ikut ngepel tapi
mambantu aku memberitahu daerah-daerah yang masih basah dan supaya tidak
dilalui orang karena kalau dilalui maka harus dipel lagi karena pasti berbekas.
Sambil mengepel, ibu Tari, ibu Esti, ibu
Retno, pak Toni minta aku datang ke kiosnya untuk memesankan sarapan. Aku
bilang kalau pekerjaan ini harus diselesaikan ini dulu baru bisa ke sana.
Mereka nggak masalah dan bisa menunggu.
Setelah selesai di lantai dua, di beberapa
tempat yang masih basah, tanda “Caution,
wet floor” aku pindahkan dan posisikan sedemikian rupa sehingga tidak
mungkin dilalui orang. Aku tinggal merapikan beberapa spot di lantai 1 yang
kotor karena injakan. Daerah yang paling kotor adalah di depan toilet. Pusing
aku, mengapa daerah ini tidak bisa kering dan bersih. Daerah ini aku pel paling
akhir dan tempatkan tanda itu.
Selesai itu, aku menghadap pak Brata
melaporkan kalau pekerjaan selesai. Pak Brata tampak puas, tapi kurang puas
untuk daerah di depan Toilet. Dia minta aku tinggal sampai saat makan siang dan
selama jeda waktu, aku diminta untuk terus mengepel daerah –daerah yang memang
perlu dipel, tidak hanya di lantai 1 dan 2 saja.
Syukurlah…. Rejekiku diperpanjang. Hatiku
senang. Ini alamat bisa dapat jatah makan malam. Demikian biasanya pak Brata
memperlakukan aku. Tapi aku minta izin untuk makan sarapanku dan melayani
beberapa ibu dan pak Toni untuk sarapan mereka. Pak Brata oke.
Segera aku menemui ibu Tari, ibu Esti, ibu
Retno, pak Toni untuk pesanannya. Ibu Tari seperti biasanya selalu pesan
indomie kuah rasa kari pakai telor dan Lombok rawit tiga buah diiris. Ibu Esti,
biasanya roti bakar keju tapi kali ini dia minta nasi goreng kecap saja. Ibu
Retno, juga pesan seperti biasanya, bubur kacang hijau dan ketan itam tapi
kacang hijaunya dobel porsinya. Tidak megherankan kalau ibu ini kulitnya kuning
mulus. Hus! Pak Toni, pesanannya yang agak aneh yaitu nasi Padang, padahal
warung Padang pada umumnya belum buka jam-jam segitu. Untungknya aku kenal
tukang masak warung Padang “Saiyo” yang dekat dengan mal dan mereka sudah tahu
bagaimana pesanan pak Toni itu. Jadi mereka maklum saja. Lauknya rendang dan
sambel ijonya banyak. “Apa nggak mules
ya?” itu yang selalu terbersit di hatiku kalau ingat pesanan pak Toni.
Sambil menuju ke warung, aku mampir ke
ruang cleaner lagi mengambil nasi
kotak yang aku dapatkan semalam. Aku cek, masih oke hanya sambel atinya saja
yang mulai agak basi dan nasinya sudah agak kering. “Ah, nggak apa-apa.
Mendingan busuk di perutku saja”. Aku pesan nasi goring dulu karena ini yang
lama. Sambil menunggu aku menyantap nasi kotakku. Hampir habis nasi kotakku,
pesanan nasi goreng siap. Aku meluncur ke kacang hijau. Cepat saja karena
tinggal nyendok aja, lagipula kang Amat sudah hapal. Dari kejauhan aku sudah
kasih kode ke kang Amat untuk satu pesanan yang biasa. Beres. Lalu ke roti
“Saiyo”, ini juga sudah hapal dengan pesanan pak Toni. Tapi kali ini ada pesan
dari warung kalau sambe ijonya kurang pedas karena Lombok sedang mahal. Oke, copy. Terakhir baru pesan indomie. Kalau
indomie dipesan di awal, biasanya mie jadi kembang dan kurang enak dimakan.
Sambil menunggu pesanan, aku menghabiskan nasi kotakku. Habis sudah dan satu
gelas air putih dari warung indomie menuntaskan sarapanku hari ini. Terima
kasih ya Mahakuasa. Dan pesanan jadi, beres semuanya.
Kembali ke mal, aku mengantarkan pesanan
sarapan ke mereka. Lumayan juga, dari tip mereka, cukup untuk satu kali makan
dan ada hadiah buah jeruk keprok dari pak Toni, katanya dapat oleh-oleh dari
tetangga yang baru pulang dari Probolinggo. Ya….”Terima kasih semua”.
Setengah hari ini aku lewati dengan gembira
karena pekerjaannya tidak berat dan telah menjadi batu tumpuan hidupku, paling
tidak untuk dua hari kedepan. Terima kasih. Makan siang dapat nasi Padang dari
pak Brata, tapi aku tidak memakannya sekarang, dan uang makan malam serta gaji
ngepel hari itu lima puluh ribu. Lumayan.
Dari saat lepas kerja di pak Brata sampai
sore aku jalan-jalan saja dan makan jeruk dari pak Toni. Nasi Padang baru aku
makan ketika aku benar-benar lapar, sekitar jam 3 siang. “Biar makan malamnya
nanti kue yang dari acara kemarin saja”, pikirku dalam hati. Kadang aku
berpikir bagaimana aku bisa lebih memanfaatkan hidupku. Kadang aku juga pingin
punya usaha sendiri, tidak selalu tergantung oleh orang seperti sekarang ini.
Tapi bagaimana?
(Greenslopes, Australia, 5 Juni 2016, 10:22
pm. Di meja kamarku)