Sabtu, 01 November 2008

Selera

Dalam sebuah promosi masakan, pernah saya baca kalau opor yang setiap tahun menjadi lauk utama perayaan lebaran Iedul Fitri atau lebaran ketupat, bumbunya terdiri dari 14 jenis bumbu. Apa saja bumbu - bumbu itu? Ha ha ha, saya tidak tahu lengkapnya. Yang saya tahu adalah bawang, brambang, laos, garam, gula, merica, sereh, dan . . . . ya gitulah saya tidak tahu.

Apakah dengan banyaknya jenis bumbu akan membuat masakan enak? Nggak selalu. Kata orang bumbu yang paling enak adalah selera. Selera erat hubunganya dengan situasi perut dan situasi lingkungan di sekitar kita.

Saya masih ingat waktu kami masih kecil, kalau kami sekeluarga bepergian dan makan di perjalanan, biasanya ayah akan mencari tempat yang aman agak jauh dari jalan, biasanya di pinggir sawah, ada gemericik air (sawah), biasanya ayah akan mencari air yang bening, dan di bawah pohon rindang sehingga panas yang terik tidak "menyiksa" kami sekeluarga. Ibu akan menggelar tikar di samping mobil yang oleh ayah dijadikan "pembatas" antara kami dan jalan raya. Lalu dibongkarlah bekal makanan kami.

Bekal kami biasanya sardin goreng balado, kentang - teri goreng balado, telor pedas, dan tumis sayur. Nasi dibungkus dengan menggunakan daun pisang yang dipanasi untuk mencairkan lilin daun dan makannya dengan mengalasinya dengan piring seng bergambar ikan besar atau bunga ros dengan latar belakang gambarnya kesan berwarna biru dan hijau muda atau langsung menungkanya di dalam piring.

Saya mungkin belum bisa "menghargai" masakan yang disiapkan ibu tetapi dengan melihat cara ayah makan, sudah bisa dipastikan bahwa ayah menikmati masakan ibu. Tidak ada bumbu istimewa dari masakan ibu, namun karena suasana yang menunjang maka selera makan kamipun menjadi meningkat. Sardin balado, kentang - teri, dan telor balado, apalah bumbunya? Hanya berambang goreng dan jeruk nipis. Bumbunya tidak sebanyak bumbu opor, namun berhasil "win" selera makan kami. Apalagi jika kita lapar, ada angin dingin sepoi yang bertiup di sekitar kita, mendengarkan gemericik air . . . . siapa yang tidak lahap makannya. Sering juga kan, kita makan hanya dengan ikan asin, sambel terasi, lalap mentimun - daun kemangi, dan nasi hangat bisa membuat kita "lupa diri". Selesai makan biasanya baru kita sadar kalau kita kepedesan dan kekenyangan. Apa bumbu sambel terasi? Nothig, cuma terasi dan jeruk (purut) saja yang utama. Betul nggak?

Praktek semacam itu kini saya terapkan. Setiap bepergian dengan keluarga, maka tidak pernah ketinggalan sadin balado atau sambel terasi pasti menemani perjalanan kami.